Sabtu, 13 Februari 2010

Kemudi dan Layar Bahtera Jiwa

Jiwamu sering kali adalah medan laga, dimana akal dan penilaianmu menggelar pertempuran dengan nafsu dan kerakusanmu.
Mungkinkah aku yang dapat menjadi juru damai di jiwamu, yang akan mengubah ketidakselarasan dan persaingan dari unsur-unsurmu menjadi kesatuan dan melodi?
Namun, bagaimana aku bisa jika dirimu sendiri tidak menjadi pendamai dan pencinta unsur-unsurmu sendiri?
Akal dan nafsumu adalah kemudi dan layar bahtera jiwamu.
Jika ada kemudi atau layarmu yamg patah, engkau akan terguling dan karam, atau jika tidak, terdiam tak bergerak ditengah samudra.
Akal karena hanya mengatur ia adalah kekuatan penahan, dan nafsu yang tanpa tujuan adalah nyala yang membakar dan mencari kehancurannya sendiri.
Karenanya, biarkan jiwamu mengangkat akalmu menuju ketinggian nafsu sehingga ia dapat bernyanyi.
Biarkan ia mengarah nafsumu dengan akalmu sehingga nafsumu dapat hidup melalui kebangkitan hari, seperti burung phoenix yang bangkit diatas abunya sendiri.
Hendaklah engkau memperlakukan, baik penilaianmu maupun kerakusanmu sebagai tamu-tamu yang engkau cintai dirumahmu sendiri.
Dan, engkau tidak bisa mencintai satu tamumu lebih dari yang lain karena siapapun yang berpihak kepada salah satu akan kehilangan cinta dan kepercayaan keduanya.
diantara bukit-bukit, ketika engkau duduk dibawah pepohonan yang sejuk, memandang ke hamparan tanah dan cakrawala yang jauh penuh keindahan-maka biarlah hatimu berkata dalam sunyi, "Tuhan bersemayam dalam akal."
Ketika badai datang, angin prahara mengguncang belantara, sedangkan kilat dan guntur membahana meneriakkan kekuasaan langit maka biarkan hatimu berkata dalam kekaguman, "Tuhan bergerak dalam nafsu."
Karena engkau adalah embusan dalam angkasa Tuhan dan dedaunan rimba Tuhan, engkau pun harus bersemayam di akal dan bergera dalam nafsu.

Tidak ada komentar: