Selasa, 09 Februari 2010

ALI BIN ABI THALIB

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Setelah Ustman Ibn Affan wafat, masyarakat beramai-ramai membai’at Ali Ibn Abi Thalb sebagai khalifah. Ali memerintah selama enam (6) tahun. Selama pemerintahannya, ia menghadapi banyak pergolakan. Tidak ada masa sedikitpun dalam pemerintahannya yang dapat dikatakan stabil. Pada waktu itu banyak golongan yang tidak menyukai Ali. Mereka adalah bintang Bani Hasyim, yang menuntut kursi khalifah, berdasarkan mereka adalah kerabat Rasulullah.
Sebagai diketahui bahwa musuh Ali banyak. Diantaranya ada yang menyembunyikan permusuhan itu, dan ada pula yang menyatakan dengan terang-terangan. Mereka berfikir apabila pemerintahan dipegang oleh Ali, maka akan kembalilah cara-cara memerintah seperti pada masa pemerintahan Umar Ibn Khatab yang keras dan disiplin. Orang-orang yang telah merasakan pemerintahan Ustman yang mudah dan lunak, tentu saja tidak akan mau kembali ke keadaan yang serba teliti, disiplin, dan perhitungan.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan seperti ini banyak orang-orang yang tidak menyukai Ali.
Diangkatnya Ali menjadi khalifah dapat ditinjau dari berbagai aspek. Bahwa yang tidak menyukai Ali diangkat menjadi khalifah, bukanlah rakyat umum yang terbanyak, tetapi golongan kecil (keluarga Umayyah) yaitu keluarga yang pemuda-pemudanya telah banyak tewas pada peperangan menantang islam. Sekarang mereka tergolong kaum elite, cabang atas. Mereka menantang Ali karena khawatir kekayaan dan kesenangan mereka akan hilan karena keadilan yang akan dijalankan Ali.
Adapun rakyat terbanyak, menanti-nantikan Ali dan menyambutnya dengan tangan terbuka. Dia akan djadikan tempat berlindung, untuk melepaskan diri dari penderitaan yang mereka alami.
Oleh karena itu pembai’atan Ali adalah pembaiatan dari rayat yang terbanyak bersama dengan orang-orang yang menggabungkan diri kepada mereka. Mereka segeralah datang kepada Ali dan membaiat beliau.

B. RUMUSAN MASALAH
• Bagaimana politik yang dijalankan Ali pada masa pemerintahannya?
• Pergolakan apa saja yang terjadi pada masa pemerintahan Ali?
• Bagaimana akhir dari pemerintahan Ali?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Politik yang dijalankan Ali Pada Masa Pemerintahannya

Politik yang dijalankan seseorng adalah gambaran pribadi seseorang itu, yang akan mencerminkan dan budi pekerti orang tersebut. Ali mempunyai watak dan pribadi sendiri, suka berterus terang, tegas bertindak, dan tidak takut celaan siapapun dalam menjalankan kebenaran.disebabkan oleh kepribadiannya itu, maka sesudah ia dibaiat untuk menjadi khalifah, maka ia mengeluarkan dua (2) buah ketetapan :
1. Memecat kepala-kepala daerah yang diangkat oleh Ustman. Dia yakin bahwa pemberontakan-pemberontakan yang terjadi karena keteledoran mereka.
Setelah itu Ali mengirimkan kepala daerah baru yang akan mengganti kepala daerah yang diangkat oleh Ustman yang telah dipecatnya tersebut. Ali mengangkat Umar Ibn Hanif sebagai amir Bashrah menggantikan Ibn Amir, Qais dikirim ke Mesir untuk menjadi amir menggantikan Abd. Allah Ibn Abi Syarh dan MU’awiyah Ibn Abi Sufyan yang menolak untuk diganti.
2. Menarik kembali tanah-tanah yang dihadiahkan Ustman kepada penduduk dan famili-famili dan kaum kerabatnya yang dianggap salah oleh Ali, dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, dan memakai kembali sistem distribusi pajak tahunan diantara orang-orang islam sebagaiman yang pernah diterapkan oleh khalifah Umar.
Banyak pendukung-pendukung dan kerabat Ali yang menasehatinya supaya menangguhkan tindakan-tindakan radikal seperti itu., sampai keadaan stabil. Tapi Ali kurang mengindahkan nasehat tersebut. Pertama-tama Ali mendapatkan tantangan dari keluarga Bani Umayyah. Mereka membulatkan tantangan tenaga dan bangunlah Mu’awiyah melancarkan pemberontakan memerangi Ali.

B. Pergolakan yang Terjadi Pada Masa Pemerintahan Ali

Banyak terjadi pergolakan atau peperangan yang terjadi pada masa pemerintahan Ali, dan yang terpenting adalah dua buah peperangan. Yaitu, peperangan Jamal (unta) dan peperangan Shiffin.
a. Peperangan Jamal
Peperangan ini adalah peperangan melawan Thalhah, Zubair dan Aisyah. Dinamakan perang jamal (unta) karena Siti Aisyah istri Rosulullah putrid Abu Bakar Ash-Shidiq ikut dalam peperangan ini dengan mengendarai unta. Ikut campurnya Aisyah memerangi Ali terpandang sebagai hal yang sangat luar biasa, sehingga orang-orang menghubungkan peprangan ini dengan Aisyah dan untanya, walaupun peran yang dipegang Aisyah tidak seberapa.
Faktor-faktor penting alasan Aisyah ikut dalam peperangan ini adalah :
- Sejak dari dulu, telah ada ketegangan diantara Ali dengan Aisyah
- Ali pernah menyaingi Abu Bakar dalam pemilihan khalifah. Lama Ali memberi bai’atnya kepada Abu Bakar. Sekarang mengapa Aisyah akan lekas membai’at Ali dan dibiarkan saja Ali menikmati jabatan itu?
- Faktor lain yang lebih penting, yaitu faktor Abdullah Ibn Zubair, putra saudara yang perempuan bernama Asma, yang dijadikannya anak angkat diasuh dan dididik dirumahnya sendiri, karena Aisyah tiada dikaruniai seorang anak. Oeh karena itu Aisyah biasa dipanggil Ummu Abdillah (Ibunya Abdullah).
Abdullah mempunyai ambisi besar hendak menduduki kursi khalifah, tetapi keinginannya tersebut terhalang karena adanya Ali. Maka dihasutnya Aisyah, bibinya untuk menceburkan diri kedalam peperangannya melawan Ali. Begitupula Abdullah juga mendorong ayahnya Zubair untuk mengambil bagian dalam peperangan tersebut.
Pada awalnya, Ali sangat ingin menghindari perang tersebut. Dia mengirimkan surat kepada Thalhah dan Zubair agar keduanya mau berunding untuk menyelesaikan perkara itu secara damai. Namun ajakan tersebut ditolak. Akhirnya pertempuran yang dahsyatpun berkobar.
Pertempuran pada perang jamal ini terjadi sangat sengitnya, sehingga Zubair melarikan diri. Dia dikejar oleh orang yang benci kepadanya dan dibunuh. Begitu juga dengan Thalhah telah terbunuh pada awal permulaan perang. Peperangan ini terus berlangsung dibawah kepemimpinan Aisyah. Ribuan manusia gugur dalam membela Aisyah Ummul Mukminin, dan melindungi unta yang dikendarai oleh beliau. Begitu pula ribuan manusia yang gugur menyerang Ummul Mukminin dan Untanya.
Akhirnya unta yang ditunggangi Ummul Mukminin dapat dibunuh, maka berhrntilah pertempuran dengan kemenangan ditangan Ali. Dan Aisyah tiada diusik-usik oleh Ali, bahkan dikembalikannya ke Makkah dengan penuh penghormatan dan kemuliaan.
b. Peperangan Shiffin
Perang shiffin adalah perang yang melawan Mu’awiyyah. Mu’awiyyah adalah anak Abu Sufyan paman Ustman. Pemuka Bani Umayyah yang sangat disegani dan dipatuhi oleh lasykarnya.
Kekuasaan Mu’awiyyah telah berakar di Syam sebagai seorang politikusulung, dia dapat mempergunakan kesempatan. Dia tahu betul bahwa jalan yang paling dekat untuk memikat hati manusia adalah : pemberian dan tipu muslihat.
Perang jamal yang mengakibatkan gugurnya ribuan tentara Ali, manyebabkan Ali kehilangan Tenaga yang baik. Sementara Mu’awiyyah memperkuat lasykarnyadengan membagi uang kepada mereka dan pengikutnya, sehingga ikatan kesatuan mereka menjadi kuat. Mereka dapat dihasut oleh Mu’awiyyah menantang pembunuh-pembunuh Ustman. Segala yang dapat dijadikan dasar kebencian kepada Ali dipergunakan oleh Mu’awiyyah karena menurut Mu’awiyyah, Ali-lah yang memberi perlindungan kepada pembunuh-pembunuh Ustman.
Dalam keadaan dan suasana yang demikian, Ali maju dengan tentaranya ke Syam. Kedatangannya oleh lasykar Mu’awiyyah. Kedua lasykar bertemu di sebuah tempat dekat sungai furat.
Pertempuran terjadi beberapa hari. Ali dengan keberanian pribadinya dapat membangkitkan semangat dan keberanian lasykarnya, sehingga kemenangan sudah membayang baginya. Mu’awiyyah sudah cemas kehilangan akal segera memanggil Amr bn Ash dan berkata, ”Mana simpananmu wahai Amr Ibn Ash? Keluarkanlah kita hampir binasa”. Lalu Amr Ibn Ash memerintahkan kepada lasykarnya, bagi yang memegang mushaf supaya diangkat keatas dengan tombaknya dan berkata kepada lasykar Ali, ”Inilah Kitabullah yang akan menjadi hakim anatara kami dan kamu”. Dan akhirnya peprangan berhenti dan diselesaikan secara tahkim, tetapi tahkim tidak menyelesaikan masalah bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga yaitu Al –Khawarij, orang-orang yang keluar dari barisan Ali.
Hasil kesepakatan dari tahkim tersebut adalah menurunkan Ali dari jabatannya sebagai khalifah dan menetapkan Mu’awiyyah sebagai khalifah.
Peristiwa tahkim telah menguntungkan Mu’awiyyah karena peristiwa tahkim tersebut telah menimbulkan lasykar Ali menjadi terpecah. Sehingga Ali dihadapkan dengan dua lawan, yaitu Mu’awiyyah dan Khawarij.
Ketika Ali memerangi khawarij, lasykar Mu’awiyyah menggunakan kesempatan tersebut untuk menghancurkan lasykar Ali.


C. Akhir Pemerintahan Ali

Di ujung masa pemerintahan Ali Ibnu Abi Thalib, umat islam terpecah menjadi tiga kekuatan politik yaitu Mu’awiyyah, Syi’ah (para pengikut Ali), dan Khawarij yaitu orang-orang yang keluar dari barisan Ali. Keadaan ini tidak menguntungkan Ali. Munculnya kelompok Al-Khawarijmenyebabkan kelompoknya semakin lemah, sementara posisi Mu’awiyyah semakin kuat.
Di waktu beliau bersiap-siap hendak mengirim bala tentara untuk memerangi Mu’awiyyah sekali lagi, terjadilah suatu komplotan untuk mengahiri hidup masing-masing dari Ali, Mu’awiyyah, dan Amr Ibnul Ash.
Komplotan ini terdiri dari tiga (3) orang Khawarij, yang telah bersepakat untuk membunuh ketiga orang pemimpinitu pada malam yang sam. Seorang diantaranya adalah Abdurrahman Ibnu Muljam. Dia berangkatke Kuffah untuk membunuh Ali. Yang seorang lagi bernama Barak Ibnu Abdillah At-Tamimi. Dia pergi ke Syam untuk membunuh Mu’awiyyah, sedangkan yang ketiga yaitu Amr Ibnu Bakr At-Tamimi berangkat ke Mesir untuk membunuh Amr Ibn Ash.
Tetapi diantar ketga orang tersebut, hanya Ibn Muljam yang berhasil membunuh Ali. Ibnu Muljam menusuk Ali dengan pedang, waktu beliausedang memanggil orang-oranguntuk bersembahyang. Orang-orang yang bersembahyang dimasjid itu dapat menangkap Ibn Muljam, yang kemudian sesudah Ali berpulang ke Rahmatullah ia dibunuh.
Adapun Barak juga dapat menikam Mu’awiyyah tapi tikamannya tidak sampai membuat Mu’awiyyah mati. Sedangkan Amr Ibn Bakr telah menanti-nantikan Amr Ibn Ash keluar untuk sembahyang subuh, tetapi beliau tidak keluar, karena kesehatannya terganggu. Seseorang yang bernama Kharijah Ibnu Habib as-Suhami yang keluar menggantikan Amr Ibn Ash mengimami sembahyang, ditikam oleh Amr Ibn Bakr yang dikiranya Amr Ibn Ash.
Setelah Ali wafat, kedudukannya sebagai khalifah digantikan oleh anaknya Hasan selama beberapa bulan. Namun karena Hasan lemah dan Mu’awiyyah semakin kuat maka Hasan membuat perjanjian damai. Perjanjian ini dapat menyatukan kembali umat islam dalam satu kepemimpinan politik, dibawah MU’awiyyah Ibn Abi Sufyan. Di sisi lain perjanjian itu juga menyebabkan Mu’awiyyah menjadi penguasa absolut dalam islam. Tahun 41 h (661 M), tahun persatuan itu dikenal dalam sejarah sebagai tahun jama’ah (Am Jama’ah). Dengan demikian berakhirlah masa Khilafaur Rosyidin, dan di mulailah kekuasaan Bani Umayyah dalam sejaraj politik Islam.

BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian-uraian diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pada masa pemerintahan Ali banyak terjadi peperangan-peperangan antar sesama ummat muslim. Banyak ummat muslim yang gugur dalam peperangan yang pada intinya ribuan ummat muslim tersebut gugur bukan karena memerangi suatu kebathilan ataupun memperluas wilayah islam, tetapi mereka berperang karena ambisi perseorangan yang menginginkan menduduki kursi khilafah. Seperti pada peperangan Jamal (unta), peperangan ini terjadi karena ambisi Abdillah Ibn Zubair untuk menduduki kursi khalifah sehingga dia menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya sampai ia menghasut Aisyah untuk ikut dalam peperangan ini. Begitu pula pada peperangan Shiffin adalah ambisi Mu’awiyyah untuk menduduki kursi khalifah sehingga dia menghasut ummat islam umtuk memusuhi Ali dan memeranginya.
Diujung pemerintahan Ali Ibn Abi Thalib, ummat islam terpecah menjadi tiga kekuatan politik yaitu Mu’awiyyah, Al Khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali), dan Syi’ah (orang-orang yang mendukung Ali).
Sehingga Ali dihadapkan dengan dua kelompok yaitu Mu’awiyyah dan Al Khawarij. Ali meninggal Pada tanggal 20 Ramadhan 40 H (660 H), dan Ali terbunuh oleh salah seorang anggota Khawarij.


DAFTAR PUSTAKA

Mubarok, Jaih. Sejarah Peradaban Islam. Pustaka Bani Quraisy.
Syalabi, Ahmad. Sejarah Kebudayaan Islam. Pustaka Al Husna Baru. Jakarta: 2007.
Yatim, Badri. Sejarah Kebudayaan Islam.

Tidak ada komentar: